pernah ada yang bertanya, apa ingin terus menerus bekerja di tempat yang sekarang. atau bertanya apa impianmu ke depan?. pertanyaan yang selalu ku jawab dengan sepenuh hati. ingin punya toko kue dan roti. dari sekian banyak yang menanyakan hal ini kepadaku. reaksinya bermacam-macam. ada yang tertawa, sambil menyelipkan kata-kata, "ah...ada-ada saja...". ada yang terkaget, dari sekian banyak reaksi yang kuterima, dapat kusimpulkan bahwa sebagian dari mereka meremehkan impianku ini.
jika kau bertanya, kenapa harus toko kue dan roti?. baiklah akan kujelaskan padamu.
jika orang lain ditanya kelebihannya, atau kemampuannya dalam bidang apa saja. maka ada yang menjawab, aku mahir berhitung, kalkulus, jadi jangan heran ketika tak lama kemudian orang itu pun sukses menjadi seorang akuntan. ada pula yang bilang aku mahir menghapal rumus kimia, jadi jangan heran jika kelak dia menjadi ahli kimia yang terkenal. dan jika hal itu kau tanyakan padaku. kamu mahir apa?. tentu saja aku akan terdiam lama dan mulai berpikir, lalu mungkin bingung. aku bisa apa?. yah...satu-satunya yang kuingat kemahiranku adalah membuat kue, selain kemahiran-kemahiran kecil lainnya seperti bersenandung, atau menghibur orang yang sedang sedih. he he he
aku bangga dengan kemahiranku yang satu ini, membuat kue. sebab dengan kemahiranku ini, aku jadi makin mirip ibu. selain kemiripan wajah tentunya. buah jatuh tak jauh dari pohonnya. memang benar sebab kamahiran membuat kue ini, diawali dengan seringnya memperhatikan ibu kalau membuat kue. pada suatu ketika, waktu itu ibu keluar kota, di rumah yang kebiasaan tiap hari menyuguhkan kue, terasa lain, karena ibu tak ada jadi kebiasaan itu terlewati begitu saja. makanya aku memberanikan diri mencoba membuat kue, seingatku kuenya namanya tulban, sejenis roti. bahannya tentu saja seingatku dari hasil pengamatan saja. hasilnya lumayan, mirip sekali dengan kue buatan ibu. pantas saja bapak lantas terheran-heran melihat kue yang disuguhkan di mejanya. lalu beliau mengira ibu sudah pulang dari luar kota. padahal....
setelah tahu kalau yang membuat kue tulban itu adalah aku. bapak lantas, memamerkannya pada ibu. beliau bilang "anakmu ini sudah dewasa, sudah bisa bikin kue...". padahal waktu itu, masih kelas 6 SD.
setelah itu, mulailah jatuh cinta sama dunia membuat kue. banyak hal yang kudapatkan ketika membuat kue dengan ibu. tentang kesabaran dan keikhlasan. menyangkut kesabaran, karena membuat kue baru untuk pertama kali, misalnya waktu itu membuat brownies kukus untuk pertama kalinya. berkali-kali gagal, entah adonannya yang keras, entah karena terlalu pahit, atau terlalu lembek. sempat saya merasa benci membuat kue ini, tapi ibu, malah lebih antusias. akhirnya dengan kesabaran yang kupinjam dari ibu, kue brownies pun jadi dengan sempurna, tidak lembek, tidak keras, tidak terlalu pahit. semakin dicoba semakin tahu. kalau adonan brownies itu pake cake emulsifier, sempat bingung, ternyata cake emulsifier itu serupa TBM, pelembut adonan. huh...kirain bahan baru. atau kalau adonan browniesnya ketika dimasukkan cairan mentega dan dark chocolate itu, jangan terlalu diaduk, sebab kalau diaduk terlalu keras, maka adonannya akan mengeras di bawah. sama dengan penggunaan coklatnya jangan coklat van houten yang kebanyakan di pake kalau bikin kue, tapi pake coklat yang khusus untuk brownies, banyak di jual di toko bahan kue kok. hasilnya beberapa kali kue brownies bikinanku ini laku di jual walaupun hanya kalangan teman kantor kakak, atau rumah jabatan, kecil-kecilan tapi kan yang penting senang mengerjakannya.
hm...tentang keikhlasan. yup....bikin kue itu juga mesti ikhlas. aku ada contoh nyatanya, waktu itu ibu ada pesanan kue lumayan banyak. tapi karena waktu itu entah kenapa tidak mood untuk buat kue. akhirnya tetap aja membuat kue dengan setengah hati, hasilnya beberapa kue dari sekian banyak itu gagal. padahal hanya kue sederhana, kue bolu biasa. tapi karna hari itu membuatnya tidak ikhlas, jadinya gagal. untungnya ibu tidak marah, inilah bagian yang kusukai kalau membuat kue dengan beliau, tidak pernah marah, malah selalu menyemangati.
sekarang jarang membuat kue, bukannya tidak mau tapi karena harus bekerja jadi merasa tidak ada waktu. padahal sangat rindu ingin membuat kue. kue brownies, tar coklat, kue nastar, kue keju, kue putri salju, terakhir bikin kue tart waktu si echa ulang tahun. uh...
terakhir pulang ke soppeng pun, banyak peralatan membuat kue ibu yang baru dan mahal. mixer misalnya yang harganya sampai jutaan, huh...kalau masalah ini memang ibu rela mengeluarkan uang banyak. tapi praktis juga. kalau mau membuat adonan roti sampai kalis, tidak perlu mengulennya dengan tangan. cukup semua bahan roti dimasukkan ke dalam mixer itu. hanya beberapa menit, jadi deh...
mimpi tentang toko kue ini masih terus saja berlanjut tentu saja. kalau pun, Insya ALLAH nanti telah menikah dengan seseorang, mudah-mudahan bisa mewujudkan impianku ini,
"sebuah toko kue kecil dan sederhana, anak-anak yang lucu menggemaskan, seorang lelaki yang sederhana, yang dengan setia kunanti di depan pintu rumah, lelaki yang dengan setianya kutuliskan puisi cinta dan memijit pundaknya setiap kali ia kelelahan mengurus kami, keluarga kecilnya"
hanya seperti itu, Tuhan mimpiku....
apa masih terlalu istimewa untukku?
amin...
jika kau bertanya, kenapa harus toko kue dan roti?. baiklah akan kujelaskan padamu.
jika orang lain ditanya kelebihannya, atau kemampuannya dalam bidang apa saja. maka ada yang menjawab, aku mahir berhitung, kalkulus, jadi jangan heran ketika tak lama kemudian orang itu pun sukses menjadi seorang akuntan. ada pula yang bilang aku mahir menghapal rumus kimia, jadi jangan heran jika kelak dia menjadi ahli kimia yang terkenal. dan jika hal itu kau tanyakan padaku. kamu mahir apa?. tentu saja aku akan terdiam lama dan mulai berpikir, lalu mungkin bingung. aku bisa apa?. yah...satu-satunya yang kuingat kemahiranku adalah membuat kue, selain kemahiran-kemahiran kecil lainnya seperti bersenandung, atau menghibur orang yang sedang sedih. he he he
aku bangga dengan kemahiranku yang satu ini, membuat kue. sebab dengan kemahiranku ini, aku jadi makin mirip ibu. selain kemiripan wajah tentunya. buah jatuh tak jauh dari pohonnya. memang benar sebab kamahiran membuat kue ini, diawali dengan seringnya memperhatikan ibu kalau membuat kue. pada suatu ketika, waktu itu ibu keluar kota, di rumah yang kebiasaan tiap hari menyuguhkan kue, terasa lain, karena ibu tak ada jadi kebiasaan itu terlewati begitu saja. makanya aku memberanikan diri mencoba membuat kue, seingatku kuenya namanya tulban, sejenis roti. bahannya tentu saja seingatku dari hasil pengamatan saja. hasilnya lumayan, mirip sekali dengan kue buatan ibu. pantas saja bapak lantas terheran-heran melihat kue yang disuguhkan di mejanya. lalu beliau mengira ibu sudah pulang dari luar kota. padahal....
setelah tahu kalau yang membuat kue tulban itu adalah aku. bapak lantas, memamerkannya pada ibu. beliau bilang "anakmu ini sudah dewasa, sudah bisa bikin kue...". padahal waktu itu, masih kelas 6 SD.
setelah itu, mulailah jatuh cinta sama dunia membuat kue. banyak hal yang kudapatkan ketika membuat kue dengan ibu. tentang kesabaran dan keikhlasan. menyangkut kesabaran, karena membuat kue baru untuk pertama kali, misalnya waktu itu membuat brownies kukus untuk pertama kalinya. berkali-kali gagal, entah adonannya yang keras, entah karena terlalu pahit, atau terlalu lembek. sempat saya merasa benci membuat kue ini, tapi ibu, malah lebih antusias. akhirnya dengan kesabaran yang kupinjam dari ibu, kue brownies pun jadi dengan sempurna, tidak lembek, tidak keras, tidak terlalu pahit. semakin dicoba semakin tahu. kalau adonan brownies itu pake cake emulsifier, sempat bingung, ternyata cake emulsifier itu serupa TBM, pelembut adonan. huh...kirain bahan baru. atau kalau adonan browniesnya ketika dimasukkan cairan mentega dan dark chocolate itu, jangan terlalu diaduk, sebab kalau diaduk terlalu keras, maka adonannya akan mengeras di bawah. sama dengan penggunaan coklatnya jangan coklat van houten yang kebanyakan di pake kalau bikin kue, tapi pake coklat yang khusus untuk brownies, banyak di jual di toko bahan kue kok. hasilnya beberapa kali kue brownies bikinanku ini laku di jual walaupun hanya kalangan teman kantor kakak, atau rumah jabatan, kecil-kecilan tapi kan yang penting senang mengerjakannya.
hm...tentang keikhlasan. yup....bikin kue itu juga mesti ikhlas. aku ada contoh nyatanya, waktu itu ibu ada pesanan kue lumayan banyak. tapi karena waktu itu entah kenapa tidak mood untuk buat kue. akhirnya tetap aja membuat kue dengan setengah hati, hasilnya beberapa kue dari sekian banyak itu gagal. padahal hanya kue sederhana, kue bolu biasa. tapi karna hari itu membuatnya tidak ikhlas, jadinya gagal. untungnya ibu tidak marah, inilah bagian yang kusukai kalau membuat kue dengan beliau, tidak pernah marah, malah selalu menyemangati.
sekarang jarang membuat kue, bukannya tidak mau tapi karena harus bekerja jadi merasa tidak ada waktu. padahal sangat rindu ingin membuat kue. kue brownies, tar coklat, kue nastar, kue keju, kue putri salju, terakhir bikin kue tart waktu si echa ulang tahun. uh...
terakhir pulang ke soppeng pun, banyak peralatan membuat kue ibu yang baru dan mahal. mixer misalnya yang harganya sampai jutaan, huh...kalau masalah ini memang ibu rela mengeluarkan uang banyak. tapi praktis juga. kalau mau membuat adonan roti sampai kalis, tidak perlu mengulennya dengan tangan. cukup semua bahan roti dimasukkan ke dalam mixer itu. hanya beberapa menit, jadi deh...
mimpi tentang toko kue ini masih terus saja berlanjut tentu saja. kalau pun, Insya ALLAH nanti telah menikah dengan seseorang, mudah-mudahan bisa mewujudkan impianku ini,
"sebuah toko kue kecil dan sederhana, anak-anak yang lucu menggemaskan, seorang lelaki yang sederhana, yang dengan setia kunanti di depan pintu rumah, lelaki yang dengan setianya kutuliskan puisi cinta dan memijit pundaknya setiap kali ia kelelahan mengurus kami, keluarga kecilnya"
hanya seperti itu, Tuhan mimpiku....
apa masih terlalu istimewa untukku?
amin...
0 komentar:
Poskan Komentar