
"tahukah kau, nak. sejauh apa jarak yang mesti kutempuh, demi bertukar sekilas kecupan denganmu?"
mendengar kabar terakhir darimu, katanya kau sudah bisa tengkurap sendiri. duh, sedih rasanya tak bisa ada disampingmu, mengamatimu yang perlahan bertumbuh sedikit demi sedikit.
kau bukan anak pertama bagiku, tapi entah mengapa kau begitu istimewa. anak dari kakak-kakak yang begitu bangganya jika mereka memanggilku, mama Henny..
kau yang tak pernah menetap dalam rahimku, namun entah mengapa serasa kita berbagi degup. mungkin saja karena proses kelahiranmu yang panjang melibatkan aku didalamnya.
baiknya kuceritakan sedikit padamu, betapa kedatanganmu sungguh amat dinantikan. pada suatu malam, pada bulan kesembilanmu, mamamu sedang menonton entah acara apa hingga tertawa terlalu keras dan merasakan kau didalamnya mulai bereaksi. sepertinya sudah saatnya, firasat nenekmu mengatakan. kami pun yang ada di makassar ini mulai panik dan pulang dengan perlengkapan seadanya menuju soppeng. kami tiba tengah malam di rumah, bersama ayahmu. sementara mamamu masih dalam kesulitan. pernah kulihat berkali-kali perempuan melahirkan, namun tak ada yang kulihat sama payahnya dengan mamamu.
dalam kepayahan yang berkepanjangan, dari rumah sakit soppeng hingga ke parepare. benar-benar memberikan banyak pelajaran untukku, untuk kami semua, nak. terasa amat sangat melelahkan menunggui mamamu berjuang, tapi setelah melihatmu untuk yang pertama kalinya, rasanya berguguran semua lelah meski terkadang kau menangis terlampau keras.
sekarang beberapa bulan sejak kedatanganmu di rumah membuatku makin rindu saja untuk pulang. rindu untuk menidurkanmu yang terkadang rewel sampai mamamu pun tak bisa menidurkanmu dan nenekmulah yang bisa sambil mengayun-ayunkanmu dalam pangkuannya. atau sekedar melihatmu mandi di pagi hari bersama bebek-bebekmu, melihatmu bermain air. melihatmu terlelap dalam ayunan. membuatkanmu sebotol susu yang hingga sekarang masih kuhapal takarannya. atau ingin sekali berbaring di dekatmu waktu malam hari hingga terbangun demi menggantikan popokmu atau memberimu susu.
sekarang tak ada waktu untuk pulang menengukmu. melihatmu tengkurap sendiri dan entah apa lagi kebisaanmu yang baru. duh...
dul, cepatlah menjengukku di sini. tak sabar rasanya ingin menghirup aromamu. yang kubiarkan menempel lama dalam kerudungku, hingga sewaktu-waktu dapat kuhirup lagi....
amat sangat merindukanmu, nak...
kau bukan anak pertama bagiku, tapi entah mengapa kau begitu istimewa. anak dari kakak-kakak yang begitu bangganya jika mereka memanggilku, mama Henny..
kau yang tak pernah menetap dalam rahimku, namun entah mengapa serasa kita berbagi degup. mungkin saja karena proses kelahiranmu yang panjang melibatkan aku didalamnya.
baiknya kuceritakan sedikit padamu, betapa kedatanganmu sungguh amat dinantikan. pada suatu malam, pada bulan kesembilanmu, mamamu sedang menonton entah acara apa hingga tertawa terlalu keras dan merasakan kau didalamnya mulai bereaksi. sepertinya sudah saatnya, firasat nenekmu mengatakan. kami pun yang ada di makassar ini mulai panik dan pulang dengan perlengkapan seadanya menuju soppeng. kami tiba tengah malam di rumah, bersama ayahmu. sementara mamamu masih dalam kesulitan. pernah kulihat berkali-kali perempuan melahirkan, namun tak ada yang kulihat sama payahnya dengan mamamu.
dalam kepayahan yang berkepanjangan, dari rumah sakit soppeng hingga ke parepare. benar-benar memberikan banyak pelajaran untukku, untuk kami semua, nak. terasa amat sangat melelahkan menunggui mamamu berjuang, tapi setelah melihatmu untuk yang pertama kalinya, rasanya berguguran semua lelah meski terkadang kau menangis terlampau keras.
sekarang beberapa bulan sejak kedatanganmu di rumah membuatku makin rindu saja untuk pulang. rindu untuk menidurkanmu yang terkadang rewel sampai mamamu pun tak bisa menidurkanmu dan nenekmulah yang bisa sambil mengayun-ayunkanmu dalam pangkuannya. atau sekedar melihatmu mandi di pagi hari bersama bebek-bebekmu, melihatmu bermain air. melihatmu terlelap dalam ayunan. membuatkanmu sebotol susu yang hingga sekarang masih kuhapal takarannya. atau ingin sekali berbaring di dekatmu waktu malam hari hingga terbangun demi menggantikan popokmu atau memberimu susu.
sekarang tak ada waktu untuk pulang menengukmu. melihatmu tengkurap sendiri dan entah apa lagi kebisaanmu yang baru. duh...
dul, cepatlah menjengukku di sini. tak sabar rasanya ingin menghirup aromamu. yang kubiarkan menempel lama dalam kerudungku, hingga sewaktu-waktu dapat kuhirup lagi....
amat sangat merindukanmu, nak...
0 komentar:
Poskan Komentar