Kabarku untukmu kurasa sampai disinilah. Tak ada yang mengharuskan lagi aku berbagi kabar denganmu. Menjelang hampir setahun setelah perkenalan kita, serasa beginilah akhir yang kuinginkan. Karena kita berjumpa di saat yang tak pernah kita pernah duga, mestinya berpisah pun dengan cara yang tak pernah kita rencanakan.
Kuputuskan meninggalkanmu dengan cara yang kupilih sendiri.
Maka kuputuskan memilih jalan bahagia yang hendak kulalui. Tuhan yang Maha Baik, menganugerahiku kehidupan yang terlalu istimewa untuk seorang sepertiku. Maka kupergunakan sebaik-baiknya waktu untuk membangun istana untukku sendiri. Di mana akan kuhabiskan sisa waktu untuk diriku sendiri atau dengan siapapun yang Ia pilihkan untukku.
Tapi tahukah kamu, jika selama ini kita mencari cahaya?.
Dan tak kutemukan cahaya itu padamu. Selama ini aku terlalu dibutakan oleh obsesi, jika aku dan kamu bersama, maka akan lebih baik hidupku ini. Tapi aku merasa tak begitu terlalu membuang waktu. Sebab yang masih berharga masih tersimpan aman tak tersentuh. Dan bahagia rasanya masih menyimpannya utuh. Cinta.
Mari membuka rahasia kecil yang pernah kujanjikan akan kubagi untukmu. Mengenai diriku sendiri, agar kau tahu, betapa waktu amat berharga dan tak mungkin membawa kembali apa yang telah terenggut tanpa kau tahu.
Mengenai diriku yang dulu. Tak pernah sekalipun aku menyimpan hatiku lebih lekat untuk seorang lelaki. Jika mungkin telah kuceritakan untukmu mengenai lelaki yang kukenal sewaktu aku kuliah dulu. Kusebut dia “my confession”. Dia hanya seorang obsesi, meski dalam waktu hingga hampir 5 tahun membuatku menutup diri dari orang-orang yang datang mengetuk. Begitu hebatnya dia, dan aku pun begitu yakinnya akan bahagia dengannya meski dia hanya seorang pembangkang yang punya mimpi yang biasa. Tak ada yang dapat kuandalkan padanya. Begitulah dia membutakannku. Jangan salah paham, tak ada janjan berdua, yang ada hanya sapaan-sapaan di musholla. Begitulah dia dan aku. Sampai kemudian setahun lalu kau datang tanpa sengaja. Pertemuan di bulan agustus itu, kau tahu?. Tak pernah ada sedikit pun keinginanku untuk datang ke pertemuan di mana aku tak ada dalam keanggotaannya. Di hari amat santai itu, hampir saja meringkuk di kamar menghabiskan waktu. Tapi entah mengapa, keinginan untuk mengunjungi museum-museum itu lebih menguat. Di sanalah menemuimu. Dan semuanya berawal karena aku yang memulai, maka dengan ikhlas hati, akan kuakhiri cerita yang seharusnya tak pernah dimulai ini.
Sesekali pasti mengingatmu, jika berkunjung ke toko buku, melalui rumah makan tempat pertama kali makan berdua, melewati kantormu. Maaf, jika mungkin terdengar berlebihan olehmu. Tapi inilah aku.
Kau tahu?. Tak ada tangisan, tak ada puisi sedih lagi untukmu. Aku merasa amat sangat bahagia melepasmu. Karena ku tahu, jika aku berbaik hati melepasmu, dan lalu mendoakanmu, maka bahagia akan datang untukmu, begitu pula denganku. Jadi sebelumnya aku belajar berbahagia dulu.
Padahal semestinya surat yang panjang ini akan berhelai-helai nantinya. Tapi kubiarkan saja sampai padan helai ke enam. Sebab, tak pantas untukmu lagi menerimanya. Kau untukku entah seperti apa lagi sekarang. Tak pernah kau memberanikan diri untuk menantangku, bahkan untuk mengatakan penolakan yang beribu-ribu jam yang lalu telah kutunggu untuk kudengar. Kenapa begitu sulit untukmu untuk mengatakannya?. Jangan menemuiku, kau tahu bagaimana caranya menulis surat, dan tak pernah kau lakukan. Sepatah kata juga tak bisa?. Atau memang kau tak bisa berkata-kata?. Atau mari kuajarkan padamu, bagaimana mengucapkannya. Cukup bilang “tidak”. Karena hanya itu saja yang ingin kudengar darimu.
Tapi hidup tak bisa lagi menunggu.
Kujalani hidup yang semestinya. Mestinya jika selama ini kau tak hirau pada berhelai-helai surat ini, maka kuhentikan saja.
Lalu akupun mulai akan menulis surat lagi. Bukan untukmu. Kali ini kuberanikan menuli surat cinta. Surat yang kupastikan berdebar hatiku jika menuliskannya. Bergemetaran jemariku jika melukiskan kata-kata. Surat cinta untuk Tuhan.
PadaNya aku benar-benar jatuh terlalu dalam.
Meski jarakNya dekat saja denganku. Tapi kurasa perlu menuliskan sajak-sajak cinta untukNya. Meski sesungguhnya Ia ada di dalam sini.
Dalam hatiku.
Kuputuskan meninggalkanmu dengan cara yang kupilih sendiri.
Maka kuputuskan memilih jalan bahagia yang hendak kulalui. Tuhan yang Maha Baik, menganugerahiku kehidupan yang terlalu istimewa untuk seorang sepertiku. Maka kupergunakan sebaik-baiknya waktu untuk membangun istana untukku sendiri. Di mana akan kuhabiskan sisa waktu untuk diriku sendiri atau dengan siapapun yang Ia pilihkan untukku.
Tapi tahukah kamu, jika selama ini kita mencari cahaya?.
Dan tak kutemukan cahaya itu padamu. Selama ini aku terlalu dibutakan oleh obsesi, jika aku dan kamu bersama, maka akan lebih baik hidupku ini. Tapi aku merasa tak begitu terlalu membuang waktu. Sebab yang masih berharga masih tersimpan aman tak tersentuh. Dan bahagia rasanya masih menyimpannya utuh. Cinta.
Mari membuka rahasia kecil yang pernah kujanjikan akan kubagi untukmu. Mengenai diriku sendiri, agar kau tahu, betapa waktu amat berharga dan tak mungkin membawa kembali apa yang telah terenggut tanpa kau tahu.
Mengenai diriku yang dulu. Tak pernah sekalipun aku menyimpan hatiku lebih lekat untuk seorang lelaki. Jika mungkin telah kuceritakan untukmu mengenai lelaki yang kukenal sewaktu aku kuliah dulu. Kusebut dia “my confession”. Dia hanya seorang obsesi, meski dalam waktu hingga hampir 5 tahun membuatku menutup diri dari orang-orang yang datang mengetuk. Begitu hebatnya dia, dan aku pun begitu yakinnya akan bahagia dengannya meski dia hanya seorang pembangkang yang punya mimpi yang biasa. Tak ada yang dapat kuandalkan padanya. Begitulah dia membutakannku. Jangan salah paham, tak ada janjan berdua, yang ada hanya sapaan-sapaan di musholla. Begitulah dia dan aku. Sampai kemudian setahun lalu kau datang tanpa sengaja. Pertemuan di bulan agustus itu, kau tahu?. Tak pernah ada sedikit pun keinginanku untuk datang ke pertemuan di mana aku tak ada dalam keanggotaannya. Di hari amat santai itu, hampir saja meringkuk di kamar menghabiskan waktu. Tapi entah mengapa, keinginan untuk mengunjungi museum-museum itu lebih menguat. Di sanalah menemuimu. Dan semuanya berawal karena aku yang memulai, maka dengan ikhlas hati, akan kuakhiri cerita yang seharusnya tak pernah dimulai ini.
Sesekali pasti mengingatmu, jika berkunjung ke toko buku, melalui rumah makan tempat pertama kali makan berdua, melewati kantormu. Maaf, jika mungkin terdengar berlebihan olehmu. Tapi inilah aku.
Kau tahu?. Tak ada tangisan, tak ada puisi sedih lagi untukmu. Aku merasa amat sangat bahagia melepasmu. Karena ku tahu, jika aku berbaik hati melepasmu, dan lalu mendoakanmu, maka bahagia akan datang untukmu, begitu pula denganku. Jadi sebelumnya aku belajar berbahagia dulu.
Padahal semestinya surat yang panjang ini akan berhelai-helai nantinya. Tapi kubiarkan saja sampai padan helai ke enam. Sebab, tak pantas untukmu lagi menerimanya. Kau untukku entah seperti apa lagi sekarang. Tak pernah kau memberanikan diri untuk menantangku, bahkan untuk mengatakan penolakan yang beribu-ribu jam yang lalu telah kutunggu untuk kudengar. Kenapa begitu sulit untukmu untuk mengatakannya?. Jangan menemuiku, kau tahu bagaimana caranya menulis surat, dan tak pernah kau lakukan. Sepatah kata juga tak bisa?. Atau memang kau tak bisa berkata-kata?. Atau mari kuajarkan padamu, bagaimana mengucapkannya. Cukup bilang “tidak”. Karena hanya itu saja yang ingin kudengar darimu.
Tapi hidup tak bisa lagi menunggu.
Kujalani hidup yang semestinya. Mestinya jika selama ini kau tak hirau pada berhelai-helai surat ini, maka kuhentikan saja.
Lalu akupun mulai akan menulis surat lagi. Bukan untukmu. Kali ini kuberanikan menuli surat cinta. Surat yang kupastikan berdebar hatiku jika menuliskannya. Bergemetaran jemariku jika melukiskan kata-kata. Surat cinta untuk Tuhan.
PadaNya aku benar-benar jatuh terlalu dalam.
Meski jarakNya dekat saja denganku. Tapi kurasa perlu menuliskan sajak-sajak cinta untukNya. Meski sesungguhnya Ia ada di dalam sini.
Dalam hatiku.
0 komentar:
Poskan Komentar