Sabtu, 24 Oktober 2009

kembali menyusun kekuatan.

lama rasanya tak menulis sesuatu. menulis apa saja. semua ide masih berserakan di dalam kepala, namun untuk menyusunnya kembali menjadi sebuah tulisan terasa sangat sulit. masalah waktu.

bukannya merasa sangat sibuk. tapi mengatur waktu untuk menulis itu yang sangat sulit. tapi sebenarnya dimanapun, jika mempunyai ide, ya silahkan menulis saja. hanya kali ini, saya ingin sekali menulis sesuatu yang lebih bermutu dan bermanfaat.

menulis itu butuh wawasan, setidaknya begitu menurut pendapatku. belakangan ini merasa sangat kosong. menyimak berita yang berkembang sudah sangat jarang. membaca koran pun sangat jarang sekali. nah, apa yang mau dituliskan?. apa yang mau dibagikan?.

tapi setidaknya, saya masih banyak melihat. banyak menyimak dengan mata.

suatu waktu, ingin sekali bepergian ke suatu tempat yang belum pernah kukunjungi. lalu menuliskan apa saja yang kulihat sepanjang perjalananku itu. seperti riset kecil-kecilan lah, tentang kehidupan kaum marginal, kehidupan rakyat kecil yang sengaja terpinggirkan. bagaimana mereka menghadapi hidup.

saya percaya saja, bahwa suatu waktu menulis adalah hal yang paling ingin kuseriusi sekarang ini. selain pekerjaan utama yang memang harus. tapi rasanya amat sangat sulit membagi pikiran antara pekerjaan dan minat yang jauh bertolak belakang. terkadang saya iri sekali dengan orang yang bebas bepergian ke suatu tempat, melakukan sesuatu sekehendak hatinya.

mari kita berpindah topik sedikit.

saya baru saja melihat sesuatu yang membuat agak sedikit tak enak hati. saya ceritakan sedikit. mengenai pernikahan (maaf, membahasnya lagi, saya pun agak bosan jika semua orang membahasnya). tapi saya merasa ini sangat penting untuk dibicarakan.

mengenai kehidupan suami istri. saya punya pemikiran sendiri. mengenai hal yang kecil, seperti membuatkan kopi untuk suami. banyak melihat kaum perempuan yang juga wanita karir, begitu saja menyerahkan masalah yang sepele ini kepada pembantu rumah tangga.

maaf, kalau terbawa sedikit ke impianku menjadi istri. kadang saya sedikit mengutuk diri sendiri. mengapa sampai detik ini juga belum menemukan jodoh. karena melihat dari umur, sudah semestinya berumah tangga, bahkan mempunyai anak. saya paling benci, jika ada orang yang mengatakan, :apa lagi yang kau tunggu". seakan pernikahan itu sesuatu yang mudah saja di atur. kami perempuan tinggal menunggu saja. itu yang selalu jadi pegangan.

tapi, kembali lagi. mau di mana dapat jodoh jika bergaulnya hanya di jejaring semacam facebook, tempat kerja dan sedikit sekali kenalan di luar sana?. hahaha...

baru-baru ini, ada teman yang bertanya. sudah punya pacar?. kata dia dia punya teman yang juga mencari, kebetulan dia suka yang berjilbab. nah loh!

tapi saya punya impian sendiri. mengenai pernikahan. begini ; seseorang yang tanpa kutahu, akan datang memintaku untuk menjadi istrinya. dia datang atas nama Tuhan. dan begitulah terjadi. seorang yang tak pernah kukenali sebelumnya. tak pernah kujumpai sebelumnya.

kami lantas menikah. saya ingin di masjid depan rumah di kampung. pesta pernikahan yang sederhana saja. lalu mulailah kami akan memulai hidup yang sebenar-benarnya. menuruti kemana tujuan suami. mengikuti semua perkataannya. dari hal yang paling kecil, membuatkannya kopi, memijitnya jika kelelahan. melakukan semua pekerjaan rumah dengan senang hati. membuat kue, membuat toko kue tradisional seperti impianku. dan membiarkan suami melaksanakan tugasnya sendiri ; menjadi pemimpin yang sebenar-benarnya.

waduh, kok jadi mengarang seperti ini sih?. tapi begitulah adanya.

hm...berpindah lagi ke masalah yang paling rumit. masalah hati.

baru kali ini saya merasakan jatuh hati yang paling aneh yang pernah kutemui. pada seseorang yang belum pernah kutemui. orang yang belum pernah kulihat bagaimana bentuk wajahnya. tapi menurutku itu tak penting. saya terlanjur jatuh pada saat pertama kali membaca tulisan-tulisannya. saya menyukainya.

saya jatuh hati dengan sederhana padanya. tapi kali inilah cinta yang paling banyak menguras airmataku. anehnya, saya semakin tabah.

sewaktu menulis ini pun, saya masih terjebak padanya. berusaha mengingkarinya adalah pekerjaan yang rumit. sebab hati selalu berkata jujur.

tiba-tiba terpikir untuk kembali menyusun kekuatan. melakukan segala hal yang ingin kulakukan. pergi ke mana saja semauku. memperjuangkan perasaanku yang sebenarnya tak pernah salah.

tak salah lagi. saya menyukaimu. apa adanya dirimu.




0 komentar: