Baiklah, saya menulis sesuatu walaupun pada awalnya sebenarnya ingin menghapus beberapa (atau sekalian menghapus semua) tulisan dari blog ini. Saya merasa malu saja jika membuka dan membaca kembali beberapa tulisan di dalamnya.
Tapi itulah adanya. Buat apa menghapusnya jika kemudian tetap menjadi ingatan yang kuat dalam kepala?. Lebih baik membiarkannya saja, menjadikannya suatu lelucon jika kapan saja butuh tertawa terbahak-bahak sampai berairmata. Saya membiarkannya juga karena seseorang telah berbaikhati membuka blog ini, membaca beberapa di dalamnya kemudian menyampaikan pernyataan yang menghibur : bahwa nama "perempuan gurun"itu, keren!. Tak sampai hati saya jika kemudian harus menghapusnya. Bukan karena pernyataan bahwa keren atau tidaknya nama itu. Hanya saja, saya merasa telah begitu larut menjadi "perempuan gurun".
Sudah Maret. Dan saya belum bisa menuliskan sesuatu yang berarti. Setiap kali ingin menulis, agak sedikit ketakutan. Sebab barangkali yang akan saya tuliskan, sekali lagi mengenai kehilangan, kesedihan, jatuh, sakit, luka, dan lain sebagainya.
Tapi beruntunglah, saya menyadari sesuatu.
Saya ingin bisa seperti orang lain : tertawa, berteman sebanyak-banyaknya, dan berbagi kesenangan.
Dan saya sementara menjadi seperti itu. Bebas seperti helai bulu.
Terkadang perasaan nyeri muncul, tapi beruntunglah bisa ditepis. Cukup membuka pandangan : tukang becak yang seperti bapak mengayuh becaknya dengan susah payah, anak-anak pengangkut sampah berbaju seragam tapi nyatanya tak bersekolah, ibu-ibu penjual kue yang kelelahan. Semua merasakan ketidakadilan, tapi tidak pernah menangisi hidup apalagi menghujat Tuhan. Mereka berjalan seterusnya.
Semoga di lain kesempatan saya bisa menuliskan sesuatu yang bermanfaat.
Tapi itulah adanya. Buat apa menghapusnya jika kemudian tetap menjadi ingatan yang kuat dalam kepala?. Lebih baik membiarkannya saja, menjadikannya suatu lelucon jika kapan saja butuh tertawa terbahak-bahak sampai berairmata. Saya membiarkannya juga karena seseorang telah berbaikhati membuka blog ini, membaca beberapa di dalamnya kemudian menyampaikan pernyataan yang menghibur : bahwa nama "perempuan gurun"itu, keren!. Tak sampai hati saya jika kemudian harus menghapusnya. Bukan karena pernyataan bahwa keren atau tidaknya nama itu. Hanya saja, saya merasa telah begitu larut menjadi "perempuan gurun".
Sudah Maret. Dan saya belum bisa menuliskan sesuatu yang berarti. Setiap kali ingin menulis, agak sedikit ketakutan. Sebab barangkali yang akan saya tuliskan, sekali lagi mengenai kehilangan, kesedihan, jatuh, sakit, luka, dan lain sebagainya.
Tapi beruntunglah, saya menyadari sesuatu.
Saya ingin bisa seperti orang lain : tertawa, berteman sebanyak-banyaknya, dan berbagi kesenangan.
Dan saya sementara menjadi seperti itu. Bebas seperti helai bulu.
Terkadang perasaan nyeri muncul, tapi beruntunglah bisa ditepis. Cukup membuka pandangan : tukang becak yang seperti bapak mengayuh becaknya dengan susah payah, anak-anak pengangkut sampah berbaju seragam tapi nyatanya tak bersekolah, ibu-ibu penjual kue yang kelelahan. Semua merasakan ketidakadilan, tapi tidak pernah menangisi hidup apalagi menghujat Tuhan. Mereka berjalan seterusnya.
Semoga di lain kesempatan saya bisa menuliskan sesuatu yang bermanfaat.
0 komentar:
Poskan Komentar