Sabtu, 07 Agustus 2010

Agustus

Tentu, saya masih Perempuan Gurun. Maaf, jika beberapa waktu belakangan tak pernah meluangkan waktu untuk menuliskan sesuatu di sini.

Tak terasa sudah menghampiri Ramadhan ketiga. Suatu perjalanan harus saya tuliskan lagi.

Pencarian Tuhan.

Dalam diri setiap manusia tentu berbeda, tergantung sejauh mana pergaulan dan lingkungan sekitar membentuknya. Saya sadar, seperti sebuah doktrin saja. Maka itu, selama perjalanan yang hampir tiga tahun ini, saya memilih jalan sendiri. mencari sendiri.

Ramadhan pertama tentu lebih sulit, dengan anggapan bahwa saya menutup aurat hanya sekadar untuk menghormati bulan Ramadhan saja. tak perlu saya jelaskan pergumulan batin seperti apa, sebab tak bisa terceritakan dengan kata-kata. Saat itu, seorang hadir, seperti penerang saja, datang menjelaskan apa yang tak terpahami sebelumnya. Baiklah, saya mengakui bahwa ada sedikit pengaruhnya dalam perjalanan religi yang saya alami. Tapi kemudian ketika dia memilih menjauh, saya toh tetap pada pegangan saya. tak tergoyahkan, bahkan semakin kuat saja.

Ramadhan kedua, keimanan seperti ombak yang pasang surut saja. Tapi jauh lebih baik ketimbang sebelumnya. Cakrawala juga semakin meluas. lalu muncul dera yang lain, dia betul-betul tak bisa tergapai. tertutup semua jalan untuk bersamanya. seseorang yang pernah saya harapkan. jika memang karena dia saya melewatkan ujian yang begitu panjang ini, tentu saya akan menyerah dan kembali pada diri saya yang purba. sebelum pencerahan. Saya berpikir dunia akan kiamat, tetapi pada kenyataannya saya masih bernapas, masih bisa mengepalkan tangan untuk bangkit.

Menjelang Ramadhan ketiga, seorang lain muncul. Seorang yang jauh dari yang pernah saya bayangkan. Sekali ini benar sulit, saya tak pernah tahu apa yang bisa mendekatkan kami. Atau apa yang bisa menjauhkan kami. Kali ini saya dalam kepasrahan yang luar biasa padanya. pun ketika dia memilih meninggalkan untuk melanjutkan mengejar impiannya yang tertunda. Saya selalu percaya padanya, dia bisa menjadi masa depan. Apapun yang dia mau, sebab memang dia pendoa yang baik.

Tak perlu saya jelaskan padanya, bahwa saya sedang menuju perubahan besar. bagaimana menjadi terasing dalam keterasingan itu sendiri. Jika sebelumnya belum ada, maka saya yang akan menjadi pelopor. Setelah tiga tahun, saya ingin perubahan yang lebih nyata. Pun jika kami tak bertemu nantinya.

Karena Allah semata, tak ada yang lain.

0 komentar: