
Dalam perjalanan ini, saya tak ingin menghabiskan waktu yang sempit hanya untuk berprasangka buruk.
Segalanya mudah adanya jika melihat dengan jernih.
Berawal ketika telepon genggam yang saya miliki terjatuh dan seketika rusak. Seorang kawan berkata, bahwa jika di posisi saya, maka pastinya akan sangat kehilangan. Katanya, kehidupan tanpa telepon genggam adalah hampa adanya. Bagi saya, tidak. selain hanya untuk bersosialisasi ala kadarnya dengan beberapa kawan, juga saya gunakan sebagai wadah untuk menulis. Karena kebetulan telepon genggam yang saya miliki dilengkapi dengan fasilitas yang nyaman untuk menulis, di mana saja dan kapan saja.
Dua hari tanpa telepon genggam.
Rupanya membawa pengaruh baik. Tiba-tiba saja saya jadi semacam pustakawati, mendata beberapa buku, mengelompokkannya kepada jenisnya masing-masing. Dan kemudian berpikir akan merapikannya dengan membuatkan rak buku atau sekadar membungkusnya dengan plastik. Tak ada salahnya jika berpikir panjang, bahwa kelak buku-buku itulah yang paling berharga untuk diwariskan kepada anak-anak, nantinya.
Jika di hari-hari biasanya, saya hanya membiarkannya bergeletakan di sana-sini. Menjadikannya berdebu dan sepertinya tak terurus. Dan tersadar pula kemudian, bahwa banyak di antara buku-buku tersebut hanya terbaca setengahnya saja. Tanpa telepon genggam, waktu saya jadi terluang untuk membaca kembali beberapa buku yang memang belum terbaca, bahkan mengulang beberapa bagian yang dianggap penting untuk diingat.
meski tak bisa juga menampik bahwa ada juga hal yang sedih dari telepon genggam yang mesti diperbaiki itu. Mungkin saja akan baik, tetapi dengan konsekuensi yang berat, bahwa beberapa data berupa tulisan-tulisan di dalamnya , nomor telepon penting, beberapa pesan singkat yang berharga akan hilang. saya menerima dengan berlapang dada. Sebab kehilangan ini hanya sebagian kecil dari beberapa hal yang memang tak pernah saya miliki, sebenarnya.
Lalu beberapa catatan kecil yang telah rapi juga ikut hilang. Jika menurutkan sifat manusiawi, maka tentu akan sedikit meradang. Tapi saya berpikir, untuk apa membuang energi hanya untuk hal-hal yang memang sudah pasti akan lenyap dengan sendirinya, nantinya?. Jangankan tulisan, telepon genggam, kita pun, manusia, tak akan ada yang bisa menjelma abadi.
Sedikit banyak saya diajarkan bagaimana mengenal batas. Tak terlampau melampaui batas dalam segala hal.
Segalanya mudah adanya jika melihat dengan jernih.
Berawal ketika telepon genggam yang saya miliki terjatuh dan seketika rusak. Seorang kawan berkata, bahwa jika di posisi saya, maka pastinya akan sangat kehilangan. Katanya, kehidupan tanpa telepon genggam adalah hampa adanya. Bagi saya, tidak. selain hanya untuk bersosialisasi ala kadarnya dengan beberapa kawan, juga saya gunakan sebagai wadah untuk menulis. Karena kebetulan telepon genggam yang saya miliki dilengkapi dengan fasilitas yang nyaman untuk menulis, di mana saja dan kapan saja.
Dua hari tanpa telepon genggam.
Rupanya membawa pengaruh baik. Tiba-tiba saja saya jadi semacam pustakawati, mendata beberapa buku, mengelompokkannya kepada jenisnya masing-masing. Dan kemudian berpikir akan merapikannya dengan membuatkan rak buku atau sekadar membungkusnya dengan plastik. Tak ada salahnya jika berpikir panjang, bahwa kelak buku-buku itulah yang paling berharga untuk diwariskan kepada anak-anak, nantinya.
Jika di hari-hari biasanya, saya hanya membiarkannya bergeletakan di sana-sini. Menjadikannya berdebu dan sepertinya tak terurus. Dan tersadar pula kemudian, bahwa banyak di antara buku-buku tersebut hanya terbaca setengahnya saja. Tanpa telepon genggam, waktu saya jadi terluang untuk membaca kembali beberapa buku yang memang belum terbaca, bahkan mengulang beberapa bagian yang dianggap penting untuk diingat.
meski tak bisa juga menampik bahwa ada juga hal yang sedih dari telepon genggam yang mesti diperbaiki itu. Mungkin saja akan baik, tetapi dengan konsekuensi yang berat, bahwa beberapa data berupa tulisan-tulisan di dalamnya , nomor telepon penting, beberapa pesan singkat yang berharga akan hilang. saya menerima dengan berlapang dada. Sebab kehilangan ini hanya sebagian kecil dari beberapa hal yang memang tak pernah saya miliki, sebenarnya.
Lalu beberapa catatan kecil yang telah rapi juga ikut hilang. Jika menurutkan sifat manusiawi, maka tentu akan sedikit meradang. Tapi saya berpikir, untuk apa membuang energi hanya untuk hal-hal yang memang sudah pasti akan lenyap dengan sendirinya, nantinya?. Jangankan tulisan, telepon genggam, kita pun, manusia, tak akan ada yang bisa menjelma abadi.
Sedikit banyak saya diajarkan bagaimana mengenal batas. Tak terlampau melampaui batas dalam segala hal.
0 komentar:
Poskan Komentar