Selasa, 31 Januari 2012

bukan mimpi, en


Saya selalu berharap ketika terbangun, saya menjumpai kenyataan yang lain. Kau tentu pernah berpikir hal yang sama, en. Bukan tak menerima, hanya saja sulit untuk percaya kenyataan yang meloncat terlalu cepat tanpa kita siap menghadapinya.

Tapi ini nyata, en. Kita harus menerobosnya. Kita harus melewatinya untuk berganti ke kenyataan yang lain.

Sore itu seperti biasa, saya menunggu pulang dari kantor kemudian tiba kabar itu. Bapak masuk rumah sakit. Banyak tak percaya sebab dua malam sebelumnya Bapak menelepon dan sedang dalam keadaan baik seperti biasa.

Tak sampai tiga jam. Bapak kemudian menyerah, kembali menghadap Tuhan. Dalam waktu yang sedikit itu, beliau sempat meminta maaf sebab telah merepotkan. Sesuatu yang kemudian sangat saya sesali, bukan saya yang ada di samping Bapak, bukan saya yang merawat Bapak. Saya tak berbuat apa-apa bahkan tak sempat meminta maaf kepada beliau. Saya merasa tak berguna samasekali.

Saya hanya bisa berbisik di telinga beliau dan memeluk tubuhnya yang kaku. Saya tak pernah menangis di pundaknya semasa hidupnya, tetapi baru kemarin saya merasakan. Dan rasanya sungguh aneh, en. Seperti sesuatu tercerabut dari bagian dirimu dan kau bingung bagaimana kemudian mengisi kekosongan itu.

Masih pertengahan Ramadhan, en. Dan tak sampai di lebaran akhirnya kita bisa bertemu. Di suasana yang tak pernah ingin saya bayangkan. Di kematian Bapak. Pertemuan yang tanpa sapa. Padahal saya sudah membayangkan pembicaraan panjang mengenai apa saja yang kau pelajari di universitas yang katanya lintas agama itu. Bersiap-siap berdebat dengan rujukan sebuah novel dari Adian Husaini yang habis saya baca kemarin. Di manakah kau meletakkan dirimu : eksklusif, inklusif atau bahkan pluralis.

Saya tak pernah tahu dan tak ingin tahu apakah masih ada waktu untuk bertemu kembali. Saya hanya ingin menyiapkan diri menerima kenyataan-kenyataan yang memang digariskan. Biar bagaimana pun, saya mengucap terima kasih paling hati sebab kau telah meluangkan waktu untuk membantu kami kemarin. Baik dalam proses memandikan jenazah Bapak, sholat jenazah, juga mengantarkan Bapak ke tempat istirahatnya yang terakhir.

Kita sama, en. Tak lagi memiliki Bapak. Dan suatu saat kita akan berhenti mengharapkan semua ini mimpi dan mulai menerima kenyataan. Air mata bukan karena tak rela, tetapi terkadang dengan airmata kami mengenang Bapak. Sesungguhnya, kami hanya sedang belajar ikhlas.

Kita memang sama-sama kehilangan, en. Tapi tak boleh berhenti mencari.

0 komentar: