Selasa, 31 Januari 2012

sekilas en

Kemarin saya pulang ke tempat kelahiran dan hanya menemui pintu rumahmu yang terbuka ramah, tetapi tak ada kau di dalamnya. Sesuatu membawamu pergi dari rumah dan hanya kembali sesekali. Sama seperti yang telah kau lakukan bertahun-tahun silam. Kita senasib, en. Sama-sama pengelana. Sama-sama perindu pulang.

Senang bisa melewatkan masa kanak-kanak denganmu meski memasuki sekolah lanjutan pertama, kita mulai memilih jalan yang berbeda. Semenjak itu, ingatan tentangmu mulai samar-samar. Saya melanjutkan ke sekolah negeri seperti biasanya keluarga kami. Tetap belajar dalam pengawasan Bapak dan tak boleh ke mana-mana. Kini jauh berbeda, en. Anak-anak tumbuh cepat seiring perkembangan teknologi dan kita yang tua ini hanya tertegun saja. Bayangkan dengan kita dulu, belajar kelompok dan main mencari jejak sebagaimana mestinya kanak-kanak.

Memasuki sekolah lanjutan atas, kau bergeser semakin jauh dalam ingatan. Pindah ke ibukota provinsi, masih pesantren yang menjadi pilihanmu. Pun sama halnya dengan saya, melanjutkan pendidikan di sekolah negeri yang kebetulan unggulan dan bersedia menampung seseorang seperti saya. Di mana masih bisa memakai buku-buku cetak bekas kakak, juga lemari belajar yang turun temurun itu. Kau, tentu khusyuk dengan pelajaranmu mendalami agama. Saya dengan agak tak tenang dikejar-kejar pelajaran eksakta, maka itu saya memilih membuang diri di kelas bahasa dan mendapatkan ketenangan di dalamnya.

Setelahnya, jarak membuat semakin lupa. Kau berani, en. Menuntut ilmu jauh ke sana, di ibukota meninggalkan orang tua yang sering sakit-sakitan. Di universitas islam negeri, belajar ilmu kalam dan filsafat di dalamnya. Dengan banyak pengharapan, bahwa ketika pulang kau bisa menjadi kebanggaan. Dan saya yang bercita-cita menjadi kebanggaan itu justru merasa gagal. Sekali lagi melanjutkan pendidikan di universitas negeri, menemukan banyak pergolakan di dalamnya. Belajar bahasa asing yang pada akhirnya tak membuat saya fasih ketika dinyatakan lulus. Pilihan terlalu sulit untuk kembali memulai, maka saya memilih melanjutkan saja. Walaupun barangkali akan berbeda jika saya memilih konsentrasi lain. Saya berusaha tak menyesalkan itu.

Saya belum berbuat apa-apa, en. Tentu kau tak pernah mendengar namaku disebut-sebut sebagai kebanggaan. Tetapi tak apalah, menjadi yang tersembunyi saja, kalau begitu. Segala kebaikan dan keburukan lebur di dalamnya.

Saya memang belum berbuat banyak, en. Tetapi tak boleh kehilangan banyak daya.

Dan tak boleh hilang percaya atas kuasa Tuhan. Bahwa kita tak bisa mengelak jika Tuhan berkehendak.

Sampai bersua di kenangan lain, en. Semoga masih ada lebaran untuk kita bertemu kembali.

0 komentar: