Sabtu, 21 November 2009

sedang tidak jatuh hati pada siapapun.

saya sedang tidak menyimpan seseorang lagi di tempat terbaik dalam hatiku.

kosong.

surat-surat yang tak terkirim menjadi bagian tersendiri.

tak ingin kubuang namun tak juga ingin kubaca berulang-ulang.

biarkan saja dalam kotaknya.

suatu saat mungkin tulisannya mulai mengabur oleh cerita-cerita baru.

dan lelaki pemyembuh itu.

kubiarkan juga berlalu sekehendak hatinya.

kami sama-sama memimpikan bebas, di mana kau tak bisa memegang kendali atasku.

begitupun sebaliknya.

setelah nopember ini, siap-siap untuk berani jatuh hati (lagi).

Sabtu, 24 Oktober 2009

kembali menyusun kekuatan.

lama rasanya tak menulis sesuatu. menulis apa saja. semua ide masih berserakan di dalam kepala, namun untuk menyusunnya kembali menjadi sebuah tulisan terasa sangat sulit. masalah waktu.

bukannya merasa sangat sibuk. tapi mengatur waktu untuk menulis itu yang sangat sulit. tapi sebenarnya dimanapun, jika mempunyai ide, ya silahkan menulis saja. hanya kali ini, saya ingin sekali menulis sesuatu yang lebih bermutu dan bermanfaat.

menulis itu butuh wawasan, setidaknya begitu menurut pendapatku. belakangan ini merasa sangat kosong. menyimak berita yang berkembang sudah sangat jarang. membaca koran pun sangat jarang sekali. nah, apa yang mau dituliskan?. apa yang mau dibagikan?.

tapi setidaknya, saya masih banyak melihat. banyak menyimak dengan mata.

suatu waktu, ingin sekali bepergian ke suatu tempat yang belum pernah kukunjungi. lalu menuliskan apa saja yang kulihat sepanjang perjalananku itu. seperti riset kecil-kecilan lah, tentang kehidupan kaum marginal, kehidupan rakyat kecil yang sengaja terpinggirkan. bagaimana mereka menghadapi hidup.

saya percaya saja, bahwa suatu waktu menulis adalah hal yang paling ingin kuseriusi sekarang ini. selain pekerjaan utama yang memang harus. tapi rasanya amat sangat sulit membagi pikiran antara pekerjaan dan minat yang jauh bertolak belakang. terkadang saya iri sekali dengan orang yang bebas bepergian ke suatu tempat, melakukan sesuatu sekehendak hatinya.

mari kita berpindah topik sedikit.

saya baru saja melihat sesuatu yang membuat agak sedikit tak enak hati. saya ceritakan sedikit. mengenai pernikahan (maaf, membahasnya lagi, saya pun agak bosan jika semua orang membahasnya). tapi saya merasa ini sangat penting untuk dibicarakan.

mengenai kehidupan suami istri. saya punya pemikiran sendiri. mengenai hal yang kecil, seperti membuatkan kopi untuk suami. banyak melihat kaum perempuan yang juga wanita karir, begitu saja menyerahkan masalah yang sepele ini kepada pembantu rumah tangga.

maaf, kalau terbawa sedikit ke impianku menjadi istri. kadang saya sedikit mengutuk diri sendiri. mengapa sampai detik ini juga belum menemukan jodoh. karena melihat dari umur, sudah semestinya berumah tangga, bahkan mempunyai anak. saya paling benci, jika ada orang yang mengatakan, :apa lagi yang kau tunggu". seakan pernikahan itu sesuatu yang mudah saja di atur. kami perempuan tinggal menunggu saja. itu yang selalu jadi pegangan.

tapi, kembali lagi. mau di mana dapat jodoh jika bergaulnya hanya di jejaring semacam facebook, tempat kerja dan sedikit sekali kenalan di luar sana?. hahaha...

baru-baru ini, ada teman yang bertanya. sudah punya pacar?. kata dia dia punya teman yang juga mencari, kebetulan dia suka yang berjilbab. nah loh!

tapi saya punya impian sendiri. mengenai pernikahan. begini ; seseorang yang tanpa kutahu, akan datang memintaku untuk menjadi istrinya. dia datang atas nama Tuhan. dan begitulah terjadi. seorang yang tak pernah kukenali sebelumnya. tak pernah kujumpai sebelumnya.

kami lantas menikah. saya ingin di masjid depan rumah di kampung. pesta pernikahan yang sederhana saja. lalu mulailah kami akan memulai hidup yang sebenar-benarnya. menuruti kemana tujuan suami. mengikuti semua perkataannya. dari hal yang paling kecil, membuatkannya kopi, memijitnya jika kelelahan. melakukan semua pekerjaan rumah dengan senang hati. membuat kue, membuat toko kue tradisional seperti impianku. dan membiarkan suami melaksanakan tugasnya sendiri ; menjadi pemimpin yang sebenar-benarnya.

waduh, kok jadi mengarang seperti ini sih?. tapi begitulah adanya.

hm...berpindah lagi ke masalah yang paling rumit. masalah hati.

baru kali ini saya merasakan jatuh hati yang paling aneh yang pernah kutemui. pada seseorang yang belum pernah kutemui. orang yang belum pernah kulihat bagaimana bentuk wajahnya. tapi menurutku itu tak penting. saya terlanjur jatuh pada saat pertama kali membaca tulisan-tulisannya. saya menyukainya.

saya jatuh hati dengan sederhana padanya. tapi kali inilah cinta yang paling banyak menguras airmataku. anehnya, saya semakin tabah.

sewaktu menulis ini pun, saya masih terjebak padanya. berusaha mengingkarinya adalah pekerjaan yang rumit. sebab hati selalu berkata jujur.

tiba-tiba terpikir untuk kembali menyusun kekuatan. melakukan segala hal yang ingin kulakukan. pergi ke mana saja semauku. memperjuangkan perasaanku yang sebenarnya tak pernah salah.

tak salah lagi. saya menyukaimu. apa adanya dirimu.




Sabtu, 12 September 2009

homesick stadium lanjut

duh!
semakin mendekati lebaran,semakin tambah kuat rindu ini untuk segera pulang. menemui orang-orang yang selama 27 tahun ini memenuhi pikiranku. orang-orang yang tiap saat dengan sabar saling mengirimi doa.

rumah peninggalan kakek yang makin merapuh. tak banyak yang berubah selain bagian belakang yang diperluas. bagian dapur yang diperluas, karena disanalah biasanya kami terdampar bercerita setelah makan malam bersama.

kurindukan suara adzan bapak dari mesjid di depan rumah.

kurindukan aroma masakan mama.

kurindukan anakku doel, yang entah apa lagi kebisaannya sekarang.

kurindukan berkumpul bersama mereka.

*menetes...

entah kenapa. di sini terlalu bising. terlalau ramai. dan di saat seperti sekarang ini,kubutuhkan sunyi untuk sekedar bercerita dengan diri sendiri.

butuh ketabahan untuk mengembalikan suasana hati seperti semula.

aku butuh pulang

hiks...hiks...hiks...

Kamis, 10 September 2009

hari keduapuluh ramadhan

terimakasih atas segala berkah yang Kau berikan. ramadhan kali ini benar-benar membuatku kewalahan menghitung sekian banyak nikmat yang diberikanNya. berkah tak selamanya mengenai materi, buatku menemukan teman baru dan komunitas baru itu merupakan sebuah berkah yang sangat luar biasa. kedekatan dengan keluarga yang bertambah. dan suasana kantor yang hangat. semuanya adalah berkah.

ramadhan kali ini mengajarkanku untuk lebih berbesar hati menerima semua takdir sesuai kehendakNya. mengenai perasaan (lagi). baru saja kualami kejadian yang menurutku amat sangat lucu menurutku. mengenai seseorang, yang entah bisa menyembuhkan atau hanya sekedar sebagai penyemangat biasa. tapi, tanpa tersadar dia masuk sudah terlampau jauh. tapi belum terlambat untuk mengeluarkannya segera dari pikiranku. dan menyerahkannya kepada orang yang lebih berhak.

tentu saja ini lucu. karena saking seringnya terluka, hingga kuhapal benar bagaimana rasanya luka itu. bagaimana rasanya perih itu. maka kuhadapi saja. toh, aku tahu bagaimana cara menyembuhkan, meski mungkin butuh waktu yang lama.

suatu kali pernah kukatakan bahwa tak akan pernah kutemukan seseorang itu. bukan dengan nada putus asa. tapi dengan nada ikhlas. bukannya tak sabar menunggu. tapi memang begitulah seharusnya.

tak apa.

tak perlu meminta maaf, aku tahu bagaimana menjalani hidupku, percayalah...

Jumat, 31 Juli 2009

Sehelai surat untukmu #6

Inilah penghabisan.

Kabarku untukmu kurasa sampai disinilah. Tak ada yang mengharuskan lagi aku berbagi kabar denganmu. Menjelang hampir setahun setelah perkenalan kita, serasa beginilah akhir yang kuinginkan. Karena kita berjumpa di saat yang tak pernah kita pernah duga, mestinya berpisah pun dengan cara yang tak pernah kita rencanakan.

Kuputuskan meninggalkanmu dengan cara yang kupilih sendiri.

Maka kuputuskan memilih jalan bahagia yang hendak kulalui. Tuhan yang Maha Baik, menganugerahiku kehidupan yang terlalu istimewa untuk seorang sepertiku. Maka kupergunakan sebaik-baiknya waktu untuk membangun istana untukku sendiri. Di mana akan kuhabiskan sisa waktu untuk diriku sendiri atau dengan siapapun yang Ia pilihkan untukku.

Tapi tahukah kamu, jika selama ini kita mencari cahaya?.

Dan tak kutemukan cahaya itu padamu. Selama ini aku terlalu dibutakan oleh obsesi, jika aku dan kamu bersama, maka akan lebih baik hidupku ini. Tapi aku merasa tak begitu terlalu membuang waktu. Sebab yang masih berharga masih tersimpan aman tak tersentuh. Dan bahagia rasanya masih menyimpannya utuh. Cinta.

Mari membuka rahasia kecil yang pernah kujanjikan akan kubagi untukmu. Mengenai diriku sendiri, agar kau tahu, betapa waktu amat berharga dan tak mungkin membawa kembali apa yang telah terenggut tanpa kau tahu.

Mengenai diriku yang dulu. Tak pernah sekalipun aku menyimpan hatiku lebih lekat untuk seorang lelaki. Jika mungkin telah kuceritakan untukmu mengenai lelaki yang kukenal sewaktu aku kuliah dulu. Kusebut dia “my confession”. Dia hanya seorang obsesi, meski dalam waktu hingga hampir 5 tahun membuatku menutup diri dari orang-orang yang datang mengetuk. Begitu hebatnya dia, dan aku pun begitu yakinnya akan bahagia dengannya meski dia hanya seorang pembangkang yang punya mimpi yang biasa. Tak ada yang dapat kuandalkan padanya. Begitulah dia membutakannku. Jangan salah paham, tak ada janjan berdua, yang ada hanya sapaan-sapaan di musholla. Begitulah dia dan aku. Sampai kemudian setahun lalu kau datang tanpa sengaja. Pertemuan di bulan agustus itu, kau tahu?. Tak pernah ada sedikit pun keinginanku untuk datang ke pertemuan di mana aku tak ada dalam keanggotaannya. Di hari amat santai itu, hampir saja meringkuk di kamar menghabiskan waktu. Tapi entah mengapa, keinginan untuk mengunjungi museum-museum itu lebih menguat. Di sanalah menemuimu. Dan semuanya berawal karena aku yang memulai, maka dengan ikhlas hati, akan kuakhiri cerita yang seharusnya tak pernah dimulai ini.

Sesekali pasti mengingatmu, jika berkunjung ke toko buku, melalui rumah makan tempat pertama kali makan berdua, melewati kantormu. Maaf, jika mungkin terdengar berlebihan olehmu. Tapi inilah aku.

Kau tahu?. Tak ada tangisan, tak ada puisi sedih lagi untukmu. Aku merasa amat sangat bahagia melepasmu. Karena ku tahu, jika aku berbaik hati melepasmu, dan lalu mendoakanmu, maka bahagia akan datang untukmu, begitu pula denganku. Jadi sebelumnya aku belajar berbahagia dulu.

Padahal semestinya surat yang panjang ini akan berhelai-helai nantinya. Tapi kubiarkan saja sampai padan helai ke enam. Sebab, tak pantas untukmu lagi menerimanya. Kau untukku entah seperti apa lagi sekarang. Tak pernah kau memberanikan diri untuk menantangku, bahkan untuk mengatakan penolakan yang beribu-ribu jam yang lalu telah kutunggu untuk kudengar. Kenapa begitu sulit untukmu untuk mengatakannya?. Jangan menemuiku, kau tahu bagaimana caranya menulis surat, dan tak pernah kau lakukan. Sepatah kata juga tak bisa?. Atau memang kau tak bisa berkata-kata?. Atau mari kuajarkan padamu, bagaimana mengucapkannya. Cukup bilang “tidak”. Karena hanya itu saja yang ingin kudengar darimu.

Tapi hidup tak bisa lagi menunggu.

Kujalani hidup yang semestinya. Mestinya jika selama ini kau tak hirau pada berhelai-helai surat ini, maka kuhentikan saja.

Lalu akupun mulai akan menulis surat lagi. Bukan untukmu. Kali ini kuberanikan menuli surat cinta. Surat yang kupastikan berdebar hatiku jika menuliskannya. Bergemetaran jemariku jika melukiskan kata-kata. Surat cinta untuk Tuhan.

PadaNya aku benar-benar jatuh terlalu dalam.

Meski jarakNya dekat saja denganku. Tapi kurasa perlu menuliskan sajak-sajak cinta untukNya. Meski sesungguhnya Ia ada di dalam sini.

Dalam hatiku.

Rabu, 22 Juli 2009

mengenai Timothy MacKay

Sewaktu melihat siaran berita di TV yang mengabarkan ledakan Bom yang terjadi di kawasan kuningan jumat pekan lalu. Terlihat seorang lelaki setengah baya nampak dalam keadaan amat sangat payah karena luka-luka disekujur tubuhnya. Bahkan ia sendiripun memegangi kepalanya yang terluka parah. Kupikir, siapapun yang melihat keadaannya saat itu pasti akan merasa sangat miris. Rasanya ingin memaki siapa saja yang tega melakukan hal yang kejam itu. Belakangan kuketahui, lelaki setengah baya itu adalah Timothy David MacKay.Direktur Utama dari PT. Holcim indonesia tbk.

Di tengah suasana negeri yang serba hilang inilah kita hidup. Banyak yang mengaku berTuhan, tapi kenyataannya saling membunuh. Bukankah yang berhak mengambil nyawa seseorang hanyalah Ia yang Maha Kuasa?. Begitu banyak yang mengaku mempunyai hati nurani, tapi kenyataannya saling mengatur strategi untuk saling menjatuhkan. Banyak yang hilang dari hidup kita sebagai orang indonesia yang utuh dengan ajaran-ajaran pancasila yang dijejalkan di kepala kita sejak kecil. Tapi pada kehidupan yang nyata kita jalani, kebanyakan dari kita malah senang jika orang lain kesusahan. Tak ada lagi saling tolong menolong, saling menerima. Lalu mungkin inilah yang menjadi senjata para teroris untuk menghancurkan kesatuan bangsa Indonesia, bangsa Kita, yang setengah mati para leluhur merebutnya dari penjajah.

Meski kemudian mulai terlihat aksi dari beberapa orang untuk menyatakan perlawanan terhadap terorisme, namun apakah harus mengalami kesakitan dulu lalu kemudian berteriak melawan?. Nampaknya begitu.

Tak lama ia bertahan. lelaki setengah baya itu, Timothy David MacKay, berpulang setelah dirawat 70 menit di Rumah Sakit Medistra. Ia berpulang setelah beberapa hari merayakan ulang tahunnya yang ke 60. Seluruh karyawan dan keluarga besar PT. Holcim indonesia tbk amat sangat kehilangan, terlihat dengan banyaknya ucapan belasungkawa dari para karyawan maupun kolega yang membanjiri rumah duka. Beliau di mata karyawan terkenal amat sangat baik, pemimpin yang baik. Memang begitu, jika seseorang berpulang, maka yang akan terdengar hanyalah cerita-cerita kebaikannya saja semasa hidup di dunia.

Sampai kemudian kudengar cerita lain mengenai beliau dari sebuah siaran radio dimana Farhan mewawancarai Dik Doank masih terkait masalah tragedi Bom Kuningan. Rupanya telah sejak lama Holcim, terutama Timothy MacKay sendiri menjalin kedekatan dengan sekolah Kandang Jurang Doank. Sekolah yang didirikan seorang seniman bernama Dik Doank, yang ditujukan untuk membantu memberikan pendidikan kepada anak-anak yang tidak mampu. Meski berbasis sekolah alam, namun terbukti sekolah Kandang Jurang Doank memberikan banyak dampak yang positif. Bukankah tak mesti bersekolah di gedung bagus dengan memakai seragam, lantas membaca buku-buku tebal, lalu merapalkan rumus-rumus dengan begitu bisa dikatakan bersekolah?. Tentu tidak.

Sekolah yang menurut Dik Doank ini tak pernah sekalipun dikunjungi oleh Presiden ini, rupanya mampu mengetuk hati seorang lain, seorang warga negara selandia baru, seorang pemimpin sebuah pabrik semen, untuk membangun sebuah museum. Sedikit banyak bantuan yang diberikan tentunya amat sangat berarti. Sebuh museum untuk karya anak-anak bangsa yang belum pernah ada. Jadi kehilangan seorang sosok Timothy MacKay ini tentunya amat sangat melukai hati bagi siapa saja yang pernah menerima uluran tangannya.

Satu hal yang sangat penting untuk diketahui. Kita yang hidup di entah belahan dunia mana saja, dengan warna kulit, bahasa, hingga kebiasaan yang berbeda, tetap saja sama sebagai manusia. lantas mengapa jadi masalah jika kita yang nyata-nyata menyembah Tuhan yang sama meski dengan cara yang berbeda?. Tidak bisakah saling duduk berdampingan dan saling bertanya tentang perbedaan yang menjadi sekat kita?. Sebab dengan perbedaan itulah maka kita akan mempunyai waktu untuk sejenak saling mengenali, saling menghormati.

Jadi rasanya sangat tidak adil jika kejadian Bom kemarin mengatasnamakan agama sebagai alasan utama. Karena seperti yang kita semua ketahui, tak ada ajaran agama yang mengajarkan umatnya untuk saling membunuh. Kita diberi hak untuk hidup dengan melakukan hal yang sebisa mungkin berguna untuk orang lain. Jadi, mari sama-sama memberi manfaat untuk hidup yang sebenarnya terlalu singkat ini.

Timothy MacKay ini adalah salah satunya. Salah satu dari sedikit orang yang peduli dengan apa saja yang menurutnya perlu bantuan. Ini baru mengenai beliau, bagaimana dengan kedelapan korban lainnya?. tentu mereka semua punya kisah sendiri. Lalu bagaimana dengan ribuan korban Bom WTC, atau korban Bom Bali?. Pasti banyak cerita kebaikan-kebaikan yang lain yang terlupa.

Negeri ini sudah terlalu rabun dengan kejahatan-kejahatan nurani yang banyak disekeliling kita. Melalui tulisan ini juga ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin juga merupakan suara hati dari orang banyak. Untuk pemimpin bangsa; "sepertinya amat sangat tidak layak memanfaatkan situasi yang jelas-jelas sudah terlampau buruk untuk menarik simpati sendiri. Musim kampanye telah lama lewat, dan sudah jelas-jelas anda adalah pemenangnya, jadi jangan buang waktu untuk menakut-nakuti kami yang hanya rakyat kecil ini. pak. Jika saja anda yang Pemimpin bangsa merasa takut terteror, lantas bagaimana keamanan untuk kami yang hanya rakyat kecil ini?.

Seperti yang sudah-sudah, kita selalu berperang, entah melawan ketidakadilan, kemiskinan, atau melawan amarah dalam diri sendiri. Karena sesungguhnya musuh terbesar seseorang ada dalam diri sendiri.

Diwaktu yang serba cepat dan sempit ini, bagaimana jika kita tidak hanya menyeru untuk bersatu melawan teroris, mari lebih mengentalkan kebersamaan. Mungkin telah lama kita terlupa bagaimana saling bergandengan atau bagaimana hangatnya rangkulan. Mari saling berbagi meski kita diciptakan berbeda.

Sesungguhnya kita masih sedang dalam peperangan, peperangan melawan yang buas, meski kita tahu sesuangguhnya pemenangnya adalah Kita. Indonesia.

Selasa, 07 Juli 2009

sehelai surat untukmu #5

Kemarahan yang kemarin bisakah kau lupakan saja?.

Waktu itu aku dalam keadaan tak stabil, jadi mudah saja bagiku untuk sulit mengendalikan emosiku. Tak ada perkataan yang kasar, jangan kuatir. Hanya berdiam diri saja.

Begitu cepatnya waktu berjalan, hampir setahun setelah perkenalan kita, padahal kurasa baru saja kemarin. Tidakkah kau mencium aroma ramadhan yang menguar deras akhir-akhir ini?. Setiap mendengar suara penyeru dari menara mana saja, aku merasakan suasana ramadhan.

Entah, sulit menjelaskannya padamu.

Telah setahun latihan yang kujalani, latihan menutup aurat. Kenapa kusebut latihan, karena sampai sejauh ini masih dalam tahap belajar. Tapi sedikit demi sedikit kurasakan perubahan yang amat sangat luar biasa. Seperti yang pernah kuceritakan padamu sebuah penyesalan, kenapa tidak dari dulu?. Menyesal rasanya melewatkan waktu yang begitu lama hanya untuk mengenal dunia beserta isinya yang melenakan sementara melupakan Ia, Dzat yang maha Mampu menjadikan semuanya lenyap dalam sekejap. Tapi kurasa tak ada artinya terus menyesali dalam-dalam keterlambatanku mengenalNya. Yang kulakukan sekarang hanyalan berusaha mencari ilmu lebih banyak lagi. Karena jika tidak seperti itu, niat untuk berubah ke arah yang lebih baik akan terhalangi.

Dulu, hidupku lurus-lurus saja. Biasa saja. Tak ada pelanggaran yang berarti, malah cenderung menjadi anak yang manis. Kepada orangtua, saudara, sepupu, atau teman. Dulu, buatku itu cukup sebagai manusia. Berusaha menjadi manusia yang baik dan berguna untuk sekeliling. Ternyata salah besar.

Tumbuh sebagai anak perempuan di keluarga yang kebanyakan perempuan membuatku tumbuh sebagai perempuan yang sebagai mana layaknya perempuan pada umumnya. Sedari kecil diajarkan memasak, membuat kue bahkan menidurkan adik. Tak pernah aku diajarkan untuk menutup aurat sedari kecil. Semua kulakukan sendiri, pencarianku berdasarkan keyakinanku sendiri. Aku tak pernah menyalahkan orangtua yang melahirkanku, yang bertugas mendidikku. Aku maklum akan ketidakpahaman mereka. Melihat mereka setiap hari berjamaah di mesjid di depan rumah cukup menggerakkan hati kecilku untuk mencari dengan caraku sendiri.

Telah hampir sepuluh tahun hidup di makassar, jauh dari orangtua. Berbagai macam ujian telah kulalui. Hidup bersama sepupu-sepupu yang kebanyakan perempuan membuatku merasa agak sedikit terhibur. Aku menyayangi mereka semua jadi tak tega rasanya jika melihat mereka dalam kesedihan atau kesulitan. Jadi sebisa mungkin membantu mereka semampuku. Jika kak stella butuh teman untuk sekedar bercerita, maka dengan senang hati mendatangi kamarnya dan mendengarnya bercerita hingga larut, atau sekedar memijitnya yang kelelahan setelah bekerja seharian. Kadang-kadang juga kami berdua berjalan seharian berbelanja dengan begitu ia merasa senang.

Waktu kak Lulu mau menikah beberapa tahun yang lalu, aku siap sedia di rumah, mengantar undangan dari ujung ke ujung rumah. Tak ada niat lain selain membantu. Kuceritakan juga padamu tak ada niat untuk memamerkan kebaikanku. Aku hanya menggambarkan sedikit “aku” yang sebenarnya. Aku pernah membaca salah satu buku “paulo coelho” yang membahas mengenai “bank Budi”. Kau pernah mendengarnya?. Jika kita menabung sebanyak-banyaknya kebaikan kita pada banyak orang, maka jika di kemudian hari kita dalam kesulitan, maka tak segan-segan orang-orang yang telah kita sebarkan tabungan bank budi akan segera membantu. Itu ada benarnya juga, tapi tidak demikin denganku. Sedari kecil aku diajarkan sebuah filosofi bersaudara yang hingga kini masih kupegang teguh. Mamaku selalu mengucapkannya hingga kuhapal benar meski tak kuketahui arti yang tepatnya seperti apa. Beliau selalu bilang, jika salah satu dari kami tertimpa musibah atau dalam kesulitan tak lupa selalu mengingatkan “niga tona pale na ku tennia pada idi sipammase-mase”. Arti secara kasarnya mungkin seperti ini “jika bukan sesama kita, lantas siapa lagi yang akan saling membantu?”. Maka dengan senang hati aku menjadi seksi sibuk di acara pernikahan kak Lulu, bukan dengan pamrih, tapi selalu saja kubayangkan jika aku pun dalam kerepotan yang sama tentunya tak ada orang lain yang membantu kecuali mereka-mereka itu.

Atau jika kak Shinta kesulitan membersihkan koleksi-koleksi buku sastranya, maka tak segan-segan aku membantunya. Karena lewat buku-bukunyalah aku mengenal beberapa penulis sastra besar dunia seperti Pram, dan penulis-penulis lain yang lantas kukagumi seperti Paolo Coelho, Goenawan Muhamad, atau pun penyair seperti Muhary Wahyu Nurba, Sapardi Djoko Damono dan beberapa penulis esai lainnya. Beberapa kali pula kak Shinta mengajak menonton pertunjukan teater dan lalu membuatku begitu menyenangi bergabung bersama mereka para seniman. Karena mereka melihat kehidupan lebih peka dari kebanyakan orang. Keindahan yang secuil pun amat dihargai.

Atau bapak di hartako, setiap kali butuh sesuatu pasti yang diteriakkan adalah namaku. Entah itu bikin kopi yang manis, atau mengambilkan dokumen bahkan menuliskan jadwal ceramah di masjid tiap bulan ramadhan. Tapi sekarang tidak lagi karena sudah ada orang lain yang membantu di rumah. Atau ogel sepupu laki-laki paling bungsu di keluarga ini, tiap dia butuh sesuatu dengan rela aku membantu. Karena dia selalu mengingatkanku kepada adik perempuanku yang meninggal, mereka sepantaran. Adikku yang bernama Nurul Huda itu meninggal karena kanker stadium lanjut yang dideritanya. Nanti akan kuceritakan padamu pada surat selanjutnya.

Nah yang terakhir dan yang paling penting tentunya telah kau kenal baik. Melebihi kau mengenaliku. Widy, yang seperti sebelah hatiku sendiri. Padanya semua kutumpahkan seluruh perasaanku, meski dia terkadang mendidikku agar tak terlalu cengeng dalam menghadapimu. Bahagia rasanya mendengar dia berani memutuskan kebahagiaannya sendiri, tanpa campur tangan dari pihak lain, termasuk aku sendiri. Dan aku pun berjanji, akan melakukan yang terbaik menjelang hari bahagiaanya hingga pun setelah menikah nantinya. Meski sedih akan tak sekamar lagi dengannya, tapi kurasa itulah hidup yang mengharuskan kami saling bergantung satu sama lain, lalu dipisahkan hanya untuk menguji seberapa lekatnya hubungan kami berdua. Aku siap untuk ujian itu.

Apa lagi yang mesti kuceritakan padamu?. Serasa masih banyak. Namun aku kuatir, surat yang sehelai namun teramat panjang ini akan membuatmu bosan. Begitu ingin mendengar banyak hal tentangmu, apa saja, tapi bagaimana mungkin?.

Sebulan lebih bulan suci ramadhan akan tiba dengan segala kesempurnaannya. Menurutku, pertemanan kita yang paling menyenangkan adalah di bulan itu, di mana kau dan aku terbiasa bercerita, tentang menu berbuka puasa, tentang apa saja yang menarik untuk dibicarakan. Lalu kuingat permintaanmu untuk merekamkan sebuah kisah drama ramadhan dari sebuah radio yang kemudian sountracknya selalu mengingatkanku padamu. Lalu pernah kau menelponku hanya sekedar ingin berbicara membunuh waktumu sewaktu di bandara menuju ke rumahmu. Lalu pesan singkat yang paling membuatku terharu dan amat sangat sesak untuk mengingatnya adalah ketika waktu itu entah sahur yang keberapa, sewaktu aku belajar terbata-bata membaca Al Qur’an. Waktu itu kau tak tahu betapa payahnya aku, betapa kuatnya keinginanku untuk menuntaskan satu surah saja, namun keterbatasanku dalam membaca sangat membuatku putus asa. Bukannya tak mengenal huruf dengan baik, hanya saja karena kurangnya membaca membuatku sering terbata jika membaca Al Qur’an. Di saat yang bersamaan kuterima sebuah pesan singkat darimu yang hingga kini masih kuat kumengenangnya. “ngajinya yang pelan aja, jangan terburu-buru”. Kau tahu setelah itu runtuh seluruh pertahananku, aku menangis, seakan-akan kau benar-benar tahu aku dalam kepayahan yang luar biasa. Kau selalu datang dengan seperti itu, dengan caramu sendiri.

Menjelang ramadhan yang kedua, aku sungguh tak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya yang perbuatan yang harus kulalukan adalah meminta banyak maaf padamu. Aku banyak salah yang tak sepantasnya, termasuk menulis surat untukmu ini. Meminta maaf ke banyak orang, agar menjalankan ibadah tak terganggu lagi oleh beban.

Sepertinya sudah terlalu panjang pembahasan yang tak penting ini. Jangan marah. Anggaplah ketika kau membaca surat ini seperti membaca sebuah dongeng, sebuah cerita yang panjang. Tentu saja surat ini nantinya akan ada akhirnya, tapi untuk sementara waktu ini, masih akan berhelai-helai yang kutuliskan untukmu.
Mari saling memaafkan dengan tulus

salam